Senin, 25 April 2011

SEJARAH BANTEN

SEJARAH BANTEN
Posted on February 28, 2008 by Arum Kusumawardhani
Filed Under Budaya | 72,488 views
Saduran Bebas dari buku “THE SULTANATE OF BANTEN by Claude Guillot, Hasan M. Ambary and Jacques Dumarçay, Gramedia 1990”
ASAL MUASAL

Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini, terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya, yang menguasai Selat Sunda, yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran, yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. Berdasarkan catatan, Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama, Pelabuhan Kalapa, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, dan Pelabuhan Banten.
Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa, dapat diketahui, lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai, melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan, di tepi sungai Cibanten, di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Wilayah ini dikenal dengan nama “Banten Girang” atau Banten di atas sungai, nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Kemungkinan besar, kurangnya dokumentasi mengenai Banten, dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara, baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16.

Peta Lokasi Banten Girang
Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco – Indonesia, berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. Walaupun dengan keterbatasan penelitian, namun banyak bukti baru yang ditemukan. Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 – 12 Masehi. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain, keramik, pengrajin besi, tembaga, perhiasan emas dan manik manik kaca. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran, dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China, Semenanjung Indochina, dan beberapa kawasan di India.

Lokasi Banten Girang

Banten Girang : Pertapaan yang diukir di dalam bukit batu
Secara nyata, tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut, tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten, tidak lagi dapat dipertahankan.
Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16, kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk.
Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini, dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri, namun kekuasaannya mulai menyusut. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. Masyarakat Sunda, memandang serius ekspansi Islam, melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan “Hindu”.
Menghadapi ancaman ini, Otoritas Banten, baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan, memohon kepada bangsa Portugis di Malaka, yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. Di mata otoritas Banten, bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda; bangsa Portugis sangat anti Islam, dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. Banten, di sisi lain, dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi.
Tahun 1522 Masehi, Portugis di Malaka, yang sadar akan pentingnya urusan ini, mengirim utusan ke Banten, yang dipimpin oleh Henrique Leme. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak, sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan, Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada, dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama, agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak, dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu, tidak terlalu dekat dengan kota Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. Lima tahun yang panjang berlalu, sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten, di bawah pimpinan Francisco de Sá, yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng.
Sementara itu, situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, penduduk asli Pasai, bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak, pada saat itu telah menetap di Banten Girang, dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti, akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. Dan adalah puteranya, Hasanudin, yang memimpin operasi militer di Banten. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya, Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda, yaitu Kalapa dan Banten, penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan.
Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah, Kaum Muslim, sekarang merupakan kelas sosial baru, yang memegang kekuasaan politik di Banten, dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. Putera Sunan Gunung Jati, Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak, yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. Dengan itu, sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut.

SEJARAH BANTEN

SEJARAH BANTEN
Posted on February 28, 2008 by Arum Kusumawardhani
Filed Under Budaya | 72,488 views
Saduran Bebas dari buku “THE SULTANATE OF BANTEN by Claude Guillot, Hasan M. Ambary and Jacques Dumarçay, Gramedia 1990”
ASAL MUASAL

Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa ini, terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Keberadaanya sedikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya, yang menguasai Selat Sunda, yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Dan juga dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran, yang berdiri pada abad ke 14 dengan ibukotanya Pakuan yang berlokasi di dekat kota Bogor sekarang ini. Berdasarkan catatan, Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama, Pelabuhan Kalapa, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, dan Pelabuhan Banten.
Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa, dapat diketahui, lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai, melainkan sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan, di tepi sungai Cibanten, di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Wilayah ini dikenal dengan nama “Banten Girang” atau Banten di atas sungai, nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Kemungkinan besar, kurangnya dokumentasi mengenai Banten, dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara, baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16.

Peta Lokasi Banten Girang
Penelitian yang dilakukan di lokasi Banten Girang di tahun 1988 pada program Ekskavasi Franco – Indonesia, berhasil menemukan titik terang akan sejarah Banten. Walaupun dengan keterbatasan penelitian, namun banyak bukti baru yang ditemukan. Sekaligus dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten ternyata jauh lebih awal dari perkiraan semula dengan ditemukannya bukti baru bahwa Banten sudah ada di awal abad ke 11 – 12 Masehi. Banten pada masa itu sudah merupakan kawasan pemukiman yang penting yang ditandai dengan telah dikelilingi oleh benteng pertahanan dan didukung oleh berbagai pengrajin mulai dari pembuat kain, keramik, pengrajin besi, tembaga, perhiasan emas dan manik manik kaca. Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran, dan hubungan internasional sudah terjalin dengan China, Semenanjung Indochina, dan beberapa kawasan di India.

Lokasi Banten Girang

Banten Girang : Pertapaan yang diukir di dalam bukit batu
Secara nyata, tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut, tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten, tidak lagi dapat dipertahankan.
Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke 16, kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk.
Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa Sunda. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat Sunda. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini, dan kapal Jung mereka telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. Walaupun Kerajaan Pajajaran masih berdiri, namun kekuasaannya mulai menyusut. Kelemahan ini tidak luput dari perhatian Kerajaan Islam Demak. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda. Masyarakat Sunda, memandang serius ekspansi Islam, melihat makin berkembangnya komunitas ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan “Hindu”.
Menghadapi ancaman ini, Otoritas Banten, baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan, memohon kepada bangsa Portugis di Malaka, yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten. Di mata otoritas Banten, bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda; bangsa Portugis sangat anti Islam, dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. Banten, di sisi lain, dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi.
Tahun 1522 Masehi, Portugis di Malaka, yang sadar akan pentingnya urusan ini, mengirim utusan ke Banten, yang dipimpin oleh Henrique Leme. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak, sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan, Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan lada, dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Kemurah hatian yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang pertama, agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak, dan yang kedua untuk menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu, tidak terlalu dekat dengan kota Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. Lima tahun yang panjang berlalu, sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir Banten, di bawah pimpinan Francisco de Sá, yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng.
Sementara itu, situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, penduduk asli Pasai, bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak, pada saat itu telah menetap di Banten Girang, dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti, akan tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai waktunya tepat. Dan adalah puteranya, Hasanudin, yang memimpin operasi militer di Banten. Islam mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Sadar akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya, Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda, yaitu Kalapa dan Banten, penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan.
Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah, Kaum Muslim, sekarang merupakan kelas sosial baru, yang memegang kekuasaan politik di Banten, dimana sebelumnya juga telah memegang kekuasaan ekonomi. Putera Sunan Gunung Jati, Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak, yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. Dengan itu, sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. Dan Banten dipilih sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut.

SEJARAH BANTEN

KH Tubagus Achmad Chotib (Residen Banten Pertama)
K.H TB Ahmad Chatib
Oleh: Fathul Wahhab

Siapakah KH. TB Ahmad Chatib itu? Banyak orang hampir melupakan namanya. Padahal, jasa-jasanya terhadap kemajuan agama dan bangsa cukup patut kita perhitungkan. Apalagi semangat dan keteladanannya yang harus kita contoh sebagai generasi penerus para alim ulama yang menjadi tiang, benteng serta harapan agama, bangsa dan negara.

Beliau (baca; Ahmad Chatib) yang bernama lengkap KH. TB Ahmad Chatib ibn Wasi' al-Bantani ini dilahirkan di sebuah kampung bernama Gayam, Pandeglang pada hari Ahad tahun 1885 M.

Di tengah-tengah cengkraman kekejaman kolonialisme Belanda, beliau menghabiskan masa kecilnya dengan pendidikan yang tidak mudah, sehingga hal itu membentuk pribadinya menjadi tangguh dan kuat dalam menghadapi deru cobaan kehidupan.

Selama masa hidupnya, beliau sebagai ulama dan pejuang mencurahkan seluruh hidupnya untuk perjuangan agama dan bangsa. Sebagai bukti peranannya dalam perjuangan bangsa, beliau pernah berpartisipasi dalam beberapa jabatan penting negara pada masanya, diantaranya : Residen Banten, Dewan Pertimbangan Agung, Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR), bahkan beliau pun pernah menduduki kursi MPRS, BPPK, dan lain-lain. Terlepas dari jabatan-jabatan yang ditampuknya, beliau pun tidak berdiam diri dalam usahanya memajukan agama dan umat, beliau mencetuskan berdirinya Majelis Ulama, Perusahaan Alim Ulama (PAU), serta mendirikan perguruan tinggi seperti Universitas Islam Maulana Yusuf di kota Serang, Banten, yang dikemudian hari berganti nama menjadi IAIN Sunan Gunung Jati.

Dalam usahanya sebagai Pemimpim atau Residen Banten, beliau memulai gerakan pembangunan fisik, sarana dan prasarana bagi keagamaan maupun kenegaraan yang dimulai dan dipusatkan di kota lama Banten, 12 Syawal 1365 H/8 September 1946 M.

Setelah menjalani masa pensiun, beliau sebagai pejuang tidak menghentikan aktifitas serta peranannya dalam pembangunan. Tetapi, beliau lebih banyak mencurahkan perhatiannya dalam memajukan kehidupan umat, seperti: mengurus peninggalan Kesultanan Banten, memelihara anak yatim piatu, mengasuh sebuah pesantren, membangun tempat-tempat ziarah, ibadah, serta tempat menerima tamu atau pelajar yang hendak menimba ilmu di Banten.

Adapun dana/biaya pembangunannya, beliau peroleh dari para donatur atau para dermawan dari seluruh masyarakat Banten, baik berupa moril ataupun materil yang beliau terima dengan penuh semangat dan ikhlas. Mereka berduyun-duyun datang ke Banten untuk menyumbangkan apa saja yang mereka miliki sesuai dengan kemampuan.

Disamping itu, beliau juga mendapatkan dana dari hasil penjualan buku-buku cetak, baik sejarah, ‘aurâd, maupun silsilah, termasuk diantaranya ‘aurâd dan silsilah Thariqat al-Muhtâjîn yang beliau dirikan untuk membentengi keimanan umat dari kerasnya pengaruh globalisasi, yang mana hal ini merupakan warisan terbesar bagi keturunannya yang ingin meneruskan perjuangannya.

Ada kisah menarik menjelang hari-hari kepergiannya. Ketika itu, seminggu sebelum wafat, beliau memiliki firasat tentang akhir dari kehidupan dunianya. Beliau segera mengumpulkan orang-orang terdekat, mulai dari isteri sampai murid-muridnya. Pada saat semua telah berkumpul dihadapannya, ia memerintahkan kepada beberapa orang muridnya untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam prosesi pemakamannya. Disamping itu, ia mulai menyampaikan wasiat-wasiat, serta mengatur pembagian harta warisannya, tak ayal hal ini membuat terperanjat semua orang yang ada dihadapannya.
Mereka bertanya-tanya, “ada apa gerangan?”. Ia pun menjelaskan akan firasat kepergiannya, "Anak-anaku, Mama –begitu biasa mereka memanggilnya- merasa tidak akan lebih dari seminggu lagi masih bersama-sama kalian", ujarnya. Mendengar ucapannya itu, air mata tak terbendung mengaliri pipi mereka.

Satu minggu yang amat berat itu berlalu, terjadilah apa yang telah dibicarakan sebelummnya. Beliau, kembali keharibaan-Nya dengan tenang. Setelah menunaikan segala kewajibannya, ditunaikan hak-haknya, bahkan hak yang seharusnya menjadi tanggungan ahli warisnya.

Gayam, minggu 19 Juni 1966 M, beliau memenuhi panggilan Sang Khalik. Kembali kepada awal dan akhir dari sebuah kehidupan. Meninggalkan mereka dengan duka mendalam tetapi penuh kebanggaan. Semangatnya yang terus mengalir, membuat beliau terasa masih tetap hidup. Yah, hidup di hati setiap keturunannya dan orang-orang yang selalu mengenang akan jasa-jasanya.
Diposkan oleh tb alam di 18:08 0 komentar Link ke posting ini
Kamis, 09 Juli 2009
Ucapan Terima Kasih Ketua Padepokan
UCAPAN TERIMA KASIH.

Kami panjatkan rasa syukur kami kepada sang pemilik alam ini, atas berkat rahmat dan ridhoNYA, kami dapat mendeklarasikan PADEPOKAN INCU BANTEN kira-kira satu tahun yang lalu dengan apa adanya tanpa mengurangi kemeriahan dari nilai-nilai budaya itu sendiri, sehingga kami dapat pula menindaklanjutinya kedalam WebBLOG kami semata-mata hanya ingin menjalin rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan, berbagi rasa, untuk seluruh warga yang ada di Negara tercinta Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Saya, Ajat Sudrajat 30 tahun, selaku Ketua Padepokan INCU BANTEN menghaturkan ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh saudara-saudara saya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dan khususnya kepada adinda saya Alam Badra Kencana yang sudah dan terus berusaha menjalin persatuan dan kesatuan demi membesarkan Padepokan ini, karena memang Padepokan ini harus dibesarkan demi untuk menjaga agar terus dapat berlanjut menjalankan program-program kegiatan Padepokan ini, diantaranya :

Pembinaan mental spiritual generasi muda (dalam hal ini adik-adik kita yang masih duduk dibangku sekolah SLTP maupun SLTA),
Pengajian Rutin, diskusi ringan ritual spiritual,
Menghidupkan dan melanjutkan kembali seni tradisi budaya khususnya di daerah Cilegon Banten,
Pengobatan, melalui terapi khusus,
Menjalin bentuk kerjasama dengan Organisasi-organisasi,
Pengobatan (terapi penyembuhan dari ketergantungan Narkoba atau sejenisnya),
Pengembangan Pemberdayaan Usaha Kecil, Dll.

Terima Kasih
Salam,


AJAT SUDRAJAT
Ketua Padepokan
0859 21 442 449

e-mail.: padepokanincu@yahoo.co.id
Jl. KH. Abdul Latif. Kp Palas Bendungan 01/01 Gang.Kosambi
42417 Cilegon Banten
Diposkan oleh tb alam di 18:20 0 komentar Link ke posting ini
Demak-Pajang-Mataram (1)
SEKILAS INFORMASI SEJARAH
( Demak - Pajang - Mataram - Ujung Kulon - Pajajaran )


DEMAK
Masa sebelum sultan Trenggono (Jawa bagian timur).
Dengan Panglima Perang nya : FATAHILLAH (saudara ipar Sultan Demak)

Kesultanan Demak di dirikan sekitar tahun 1500 M oleh Raden Fatah (Pangeran Jinbun) putra Prabu Brawijaya (Raja Majapahit terakhir dari seorang selir).

Tahun, 1478 Masehi, terjadi penyerbuan Kerajaan Kediri atas Majapahit, Prabu Brawijaya gugur dibunuh oleh Senopati Udara (Patih dari Kediri). Dengan demikian Raja Kediri Prabu Giri Indra Wardhana mengambil alih kekuasaan Majapahit.

Tapi pada
Tahun, 1498 Masehi, Prabu Giri Indra Warhana dibunuh pula oleh Senopati Udara dalam satu pemberontakan. Dan Patih Udara mengangkat dirinya menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Udara (Hamka, 1976 : 153)

Melihat keadaan ini Raden Fatah mengembangkan daerahnya BINTORO dengan para santri-santrinya.

Raja-raja pesisir tidak setuju dengan pemerintahan yang tidak sah (yang dipimpin Prabu Udara / Senopati Udara) atas Majapahit itu. Mereka lebih menyukai Raden Fatah sebagai anak keturunan Raja Majapahit.

Tahun, 1512 Masehi, Prabu Udara mengutus dari Majapahit ke Malaka (kekuasaan Portugis) untuk mengadakan kerjasama.

Tahun, 1517 Masehi, Mengadakan serangan besar-besaran ke Majapahit, akhirnya Majapahit dapat dikalahkan. Prabu Udara dan pengikutnya melarikan diri ke Bali – Pasuruan dan Blambangan. Semua barang kebesaran Majapahit dipindahkan ke Bintoro Ibukota Kesultanan Demak.

Pada masa Raden Fatah di Pulau Jawa hanya ada 2 (dua) kerajaan Hindu, yaitu :
1. Pajajaran di Jawa Barat
2. Kerajaan Blambangan di Pasuruan.

Raden Fatah (1500 M – 1518 M)
Mempunyai putra 3 (tiga) :
1. Pangeran Muhammad Yunus (1518 M – 1521 M)
2. Pangeran Sekar Seda Lepen
3. Pangeran Trenggono (1521 M – 1546 M)

Pangeran Muhammad Yunus di angkat menjadi Patih Demak (Paih Unus / Pangeran Sabrang Lor).

Tahun, 1518 Masehi, Raden Fatah wafat, dan digantikan oleh putranya Patih Unus/Pangeran Muhammad Yunus.

Tahun, 1521 Masehi, Pangeran Muhammad Yunus (Patih Unus) wafat dan tidak mempunyai putra. Pada masa ini kedua adiknya Pangeran Seda Lepen dan Pangeran Trenggono sama-sama ingin menjadi Sultan. Tapi Pangeran Seda Lepen dibunuh oleh anak sulung Pangeran Trenggono, akhirnya,
Tahun, 1521 Masehi s.d 1546 Masehi, Pangeran Trenggono di angkat jadi Sultan Demak dengan gelar Sultan Trenggono, pada saat itu yang menjadi Panglima Perang Sultan Trenggono adalah Fatahillah (Hamka, 1976 : 158-160)

Tahun, 1526 Masehi, diperintahkan Fatahillah untuk merebut Banten dari Pajajaran. Pergilah Fatahillah ke Cirebon dulu beserta 2000 pasukan untuk mendengarkan nasehat dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) sebelum menyerbu ke Pajajaran.

Karena memang sedang terjadi kerusuhan pemberontakan yang dipelopori oleh :
Pangeran Sabakingking atau Pangeran Hasanudin (Purwaka, 23)

Tahun, 1546 Masehi, Pasukan Demak dengan Bantuan Cirebon dan Banten menyerang Pasuruan, Panarukan dan Supit Urang yang merupakan daerah-daerah penting Kerajaan Hindu-Blambangan.
Pasukan Demak mengirimkan 7000 prajurit pilihan yang dipimpin langsung oleh Fatahillah (usianya 70 tahun hingga wafat) ke tiga daerah :
1. Pasuruan
2. Panarukan
3. Supit dan Urang, ketiga daerah ini dapat dikuasai.
Tetapi Sultan Trenggono gugur.

Kemudian tahta Kesultanan Demak (1546 M – 1547 M) dipegang oleh Sunan Prawoto / Pangeran Mu’min putra dari Sultan Trenggono. Tetapi baru 1 (satu) tahun menampuk kepemimpinan Sunan Prawoto dibunuh oleh misannya : Arya Penangsang (putra dari Pangeran Seda Lepen) dengan motif dendam.

Sunan Prawoto, mempunyai putra bernama Pangeran Arya Pangiri, ini pun akan dibunuhnya oleh Arya Penangsang, tapi dapat meloloskan diri dan berlindung kepada Pangeran Hadiri (adipati Kalinyamat), yang pada akhirnya Pangeran Hadiri dibunuh oleh upahan Arya Penangsang (Hamka. 1976 : 163; Berg : 1952 : 390)

Perang Saudara yang bermula dari perebutan kekuasaan di Demak ini berlangsung kira-kira 21 tahun lamanya (1547 Masehi s.d 1568 Masehi)

Tahun, 1568 Masehi, Banten lepas dari Demak. Sultan Hasanudin sebagai Sultan pertamanya.

Perang baru berakhir setelah Jaka Tingkir (sebagai menantu Sultan Trenggono) dapat membunuh Arya Penangsang dalam satu pertempuran sengit. Jaka Tingkir dinobatkan menjadi Penguasa di Demak dengan gelar Sultan Adiwijoyo.
Pusat Pemerintahan dipindahkan ke PAJANG (1568 Masehi s.d 1586 Masehi), Jaka Tingkir memerintah selama kurang lebih 16 tahun.
Sedangkan Demak dijadikan Kadipaten dengan Bupatinya Pangeran Arya Pangiri.
Jaka Tingkir atau Sultan Adiwijoyo tewas dalam pertempuran melawan pasukan MATARAM yang dipimpin oleh Sutawijoyo.


PAJANG - MATARAM
Jaka Tingkir atau Sultan Adiwijoyo dinobatkan menjadi Penguasa di Demak (1568 Masehi s.d 1586 Masehi) kurang lebih 16 tahun memerintah Demak dengan Pusat Pemerintahan di PAJANG.

Catatan :
Kepada seluruh saudara di bumi nusantara ini, dalam hal ini Padepokan INCU BANTEN tidak memiliki sumber informasi sejarah tentang Kerajaan PAJANG dan Kerajaan MATARAM. Dimohon dengan sangat kepada saudara saudara jika ada yang memiliki baik ringkasannya sekalipun dimohon dengan sangat menghubungi alamat WebBLOG ini : http://padepokanincu.blogspot.com
e-mail.: padepokanincu@yahoo.co.id
Diposkan oleh tb alam di 18:18 0 komentar Link ke posting ini
Ujung Kulon (2)
UJUNG KULON Sastra Ujung Kulon


Prasasti Ujung Kulon
(Ti Pupuhu Nu Sejati) sumber : SANGATEN

1. Ujar-ujar panglungguhan para susuhunan
Jajar pusaka titis waris karatuan
Udagan para kusumah nyampurnakeun badan
Nyandak waris pituduh, ti Bumi Suci Banyu Rasa Kahuripan
Geusan pibekeleun para satria ngaguar cumarita sangaten

2. Kinayungan nu mawa pangadegan wahyu Cakra Ningrat
Utusan ti Pajajaran nu pasti, sanes ti Kalinyamat
Lumungsurna teu mawa jimat, tapi mibanda syahadat
Olohok lain kabengbat kunu jadi, tapi inget ka riwayat
Nalika jaman nu parantos kaliwat

3. Umbul-umbul siloka tanjung bandera
Jadi tanda pikeun balarea nu aya
Ulah pada baburia, hijikeun tekad bangsa
Nincak kana hambalan, napak dina jalanna
Gumelar dina waktuna, cumarita dina hakna

4. Kikidung nu mawa beja, warisan ti pupuhu
Ulah rek di popoho, lamun rek pada ngagugu
Lumaku lalanang jagat, lai oge dikudu-kudu
Olahan nu mikahayang, teu surti kapara guru
Nurutkeun bae kahayang, ahirna kakurung nafsu

5. Ujung Kulon waris nu pasti, panglungguhan SANGHYANG SIRAH
Jumeneng alas mawangi, titis waris Eyang Kudratullah
Ulah poho kanu pasti, waris suci ti para kusumah
Nitih wanci nu mustari, ngadegkeun amanah prasasti sejarah
Gumelar wangsit nu pasti, ngalaksanakeun pancen amanah

6. Kakayaan waris ti gusti, pikeun ngeusi jati diri
Ujian pikeun diri, ngawujudkeun ngawangun nagri
Lumaku ulah ka lali-lali, komo bari ngaku-ngaku diri
Omongan bari teu pasti, nyasarkeun kanu rek ngabdi
Nu mana nu sejati pasti, nu nyiloka ngaraksa diri



Kidung Eyang Santang (1 s.d 14)
Penggalan :
Buru-buru geura anu pundung
Ratu maung teu terang ratu
Anu ditundung ditempat ratu
Anu mangperung leungitna ratu
Anu mangperung susah payah
Putra anu bingung ………………………………

Sahadat Ujung Kulon (pernyataan/statement/janji)
Penggalan :
Ashadu sahadat ujung kulon
Pambuka ratu sakti
Ngancik suci yang mulia
Panggebray ratu ning ujung nyata
Suci kami manungsa darma titipan ……………….

Kidung Banyu Suara (1 s.d 24)
(diturunkeun di Sawojajar Bogor Tahun Alip Tanggal 13 Mulud 1970)
Penggalan :
Banyu suci anu gumelar
Banyu suci tungtung hiji
Banyu ratu cahaya suci
Nu ngawujud di bumi
Alam Sanghyang Sirah aya wujudna
Nyata manusa katembongna ………………………..

Sejarah Rama Agung Pajajaran (1 s.d 25)
Penggalan :
Jumeneng di Ujung Kulon
Gaduh Jenengan Ratu Agung Pangeran Sirna Putih
Di Ujung Kulan di sirah nusa
Nyawa kawitan nana
Sareng Ibu Agung Sanghyang Sirah

Wangsit Prabu Siliwangi (1 s.d 18)
Penggalan :
Lalakon urang ngan nepi poe iyeu
Najan diya kabehan ka ngaing pada satia
Tapi ngaing hanteu meunang diya pipilueun
Milu hirup jadi balangsak
Milu rudin bari lapar
Dia mudu marilih
Pikeun hirup kahareupna
Supaya engke jagana jembar senang sugih mukti
Bisa ngadegkeun deui Pajajaran
Lain Pajajaran nu kiwari
Tapi Pajajaran anu anyar
Anu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman

Pilih!!
Ngaing moal ngahalang-halang
Sabab pikeun ngaing hanteu pantes jadi Raja lamun soma sakabehna
Lapar bae jeung balangsak
Terjemahan
Pilih!
Saya tidak menghalang halangi
Sebab buat saya tidak pantas menjadi Raja kalau umat semua
Selalu lapar dan susah

Kidung Ujung Kulon (1 s.d 32)
Penggalan :
Uwung uwung awing awing
Bumi leungit keur gumulung
Dilebet rasiah gumulung
Muhammad jadi kukuncung

Kukuncung nyatana tungtung
Sanes bukti jadi maung
Tapi bukti terang
Kukuncung putih anu nulung
……
Ujung Kulon rahasiah Muhammad
Jadi manusa Muhammad
Tepi ka ratu ujung Muhammad
Jadi kulon abdi Muhammad
……
Sanghyang Sirah Muhammad
Sirah eling raga Muhammad
Leungeun welasna raga Muhammad
Diposkan oleh tb alam di 18:17 0 komentar Link ke posting ini
Pajajaran (3)
PADJADJARAN
Prasasti Batu Tulis :
Benteng Pakwan 1455 saka

Wangna pun ieu saka kala
Prabu Ratu Purane … Pun … Diwastu
Diya wingaran (dingaran) Prabu Guru Dewata Prana
Diwastu diya wingaran (dingaran)
Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Di Pakwan Pajajaran
Sri Sang Ratu Dewata … Pun … Ya nu nyusuk na Pakwan
Diya anak Rahyang Dewa Niskala Sang Sidamokta di Gunatiga
Incu Rahyang Niskala Wastu Kancana Sang Sidamokta
Ka Nusa Larang ya siya nu nyinyan sasaka
La gugunungan ngabalay nyinyan samida
Nyinyan Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya
Ya Siya Pin I Saka, Panca Pandawa Bumi

Mugia salamet ieu tanda paringetan keur (ti tingal ti)
Prabu Ratu Suwargi
Inyana di istrenan kalawan inyana nu nyieun susukan (pari)
Di Pakwan inyana anak Rahyang Dewa Niskala
Nu di kurebkeun di Nusa Larang
Inyana nu nyieun paringetan (mangrupa)
Gugunungan, ngawangun jalan nu di balay ku batu
Nyieun samida, nyieun Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya
Nya inyana (nu nyieun eta sakabeh)
(di jieun) dina (taun) saka 1455

Benteng Pakwan
Nu di jieun ku Sri Baduga Maharaja…….
Diposkan oleh tb alam di 18:16 0 komentar Link ke posting ini
BADUY/RAWAYAN (4)
Sumber : Sejarah dan Tradisi Prabu Siliwangi
Kolonel Djadja Suparman, Bandung 1988.
Deden Sulaeman (putra dari Kolonel djadja Suparman), Bandung 2004


Apakah masyarakat Baduy pernah berhubungan dengan Raja Pajajaran Sili(h)wangi itu ……
Entah dalam bentuk persekutuan, entah dalam bentuk perhambaan …?

Dalam Naskah Cariosan Prabu Siliwangi di ceritakan bahwa Siliwangi mengadakan hubungan persekutuan dengan 7 (tujuh) Raja :
1. Raja Ponggang
2. Raja Singapura (Cirebon)
3. Sumedang
4. Kawali
5. Panjalu
6. Pekalongan
7. Blambangan

Nama Sultan Banten tidak disebut
Tentang pendirian Kerajaan Pajajaran Periode 1133 dan 1533

Bagaimana pandangan orang Baduy tentang diri nereka sendiri, atau dimana mereka menempatkan diri di alam semesta …?

Dari Jaro Sarpin :
Bulan Kawalu, Bulan Karuhun, Wang Tua Urang, Para Dalem Parabu Siliwangi asup jadi urang Pakwan nyaeta MAUNG

Dipenta ku Jaro Kasalametan :
Bisa ngarengkakeun jelema, Manehna ngarengkakeun jelema, Ngajagi – Ngaraksa Umat-umat na

Jaro lamun puasa :
Titipan urang Pakuan, Di urus dina bulan kawalu ditanggal 18 (delapanbelas), Hayang Cunduk, Cimarang Aturan, Cimarang Maca, Jaja Kertana, Anak Umat-umat, Anak Putu-putu sakabeh, Anak putu Kanjeng Nabi Muhammad, Sakabeh bangsa Cina, Balanda, Supaya Jaja Kertana, Salamet dirina, Jaja Perangna, Parek Rejekina.

Pernyataan tadi disebut :
Ngukus Ratu Nyaja Menak, Dina waktu sakitu tah tili bulan di urus, Ditutup sina bulan Silih Haji, Bulan katiga tanggal 27 (dua puluh tujuh) Bontot Kamancing

Garis besar dari Self Identification orang Baduy :
Dunia terbagi 2 (dua) bagian :
1. Masyarakat Baduy yang sacral (bagian yang sakral)
2. Masyarakat Non Baduy (bagian profan)
Dalam tradisi disebut :
Pulau Banten, Nagara Telung Puluh, Salawe Panca Nagara, Sakolong Salangit, Satangkarak Lemah

Dari Sejarah ……
Pajajaran pernah menguasai Banten Utara (tidak diketahui tahunnya)
Tahun, 1526 Masehi, Demak sudah berkuasa di Banten Utara.

Jadi ……
Orang Baduy mengetahui nama :
Pakwan (Pakuan), Pajajaran, dan, Siliwangi

Nama-nama ini dimasukkan kedalam MITE (tangtu Tilu anu Ngurusan, Jaro Dampa anu Napa-an)

Tradisi Ki Yasin Jaro Dangka :
Tina mimitina alam dunya aya jelema ngan PUUN, sakureun dua, BIKANG jeung LALAKI.
PUUN Cikeusik eta PUUN Dua, boga anak jadi SULTAN BANTEN kajeroan kabeh sa incu-incuna ti PUUN BIKANG.
Anak PUUN Cikeusik jadi PUUN Cibeo, jeung PUUN Cikartawana.
PUUN Cibeo boga anak :
1. Nabi Adam, (boga deui putra)
2. Kanjeng Nabi Muhammad.

JADI……
Nabi Adam jeung Nabi Muhammad INCU PUUN CIKEUSIK.
(versi baduy dalam)

Ceuk PUUN Cibeo, ka anakna Kanjeng Nabi Muhammad :
Hayu sia kudu ayeuna ngaramekeun nagara, Kudu ngadegkeun masigit bagoang di Makkah, Kudu make solat Kusban, Ajian, Rewah, Mulud, Tapi ulah campur jeung aing … kudu ngaramekeun Nagara bae …

Ceuk Kanjeng Nabi Muhammad :
Heug …… tapi para buyut kabeh kudu dicekelan ku kaka nyaeta Nabi Adam,
Jadi kaka eta, kudu :
Ngasuh Ratu Ngajaga Menak, Sakurung ning langit, Satangkarak ning lemah nagara, Kudu dicekel para buyutna ku kaka, ku Nabi Adam.

Kesimpulan tadi :
Ibarat demikian, dunia ramai yang profane itu, dengan kesibukan pembangunan dan perkembangan, dengan segala keruwetan, dengan laut, dengan guruh itulah muncul Pulau Kecil,
--- MASYARAKAT BADUY YANG SAKRAL ---
Tempat awal dunia semesta dan tempat awal umat manusia.

Masyarakat kecil ini merasa bertanggung jawab atas keselamatan semua orang yang sibuk berlayar dilautan yang dahsyat itu,
Hubungan mereka dilaut adalah :
Hubungan damai, Hubungan persaudaraan tanpa unsur antagonistik.

Andai orang BADUY / RAWAYAN fasih berbahasa inggris :
--- PLEASE … LEAVE ME ALONE ---

Orang BADUY mengatakan :
Jelema Kanekes Tara Taluk ku Gupernemen,
Artinya :
Orang BADUY bukan mau berontak, mereka mau mempertahankan identitasnya sebagai kelompok dalam hidup masyarakat yang sesuai dengan pandangan religius dan Sosio-Budaya dari mereka sendiri.

KHAS BADUY :
Jampena :
Ngungkung goong sakar gadang, asmara jeung singa jaya, goong sieum dating deui, mangka tetep, mangka langgeng, mangka hurip singa jaya.

Kacara Bangbang
Tapi euweuh nu enggal, cara riweung bae, kubaris kolot, panamping, jaro gupernemen ditangkisan deui kanu boga.

JADI ……
SILI(H)WANGI tidak main peran yang berarti dalam hidup sosio-budaya dan pandangan religius orang Baduy. Hubungan Abdi dengan Pemerintah dan Hubungan Baduy dengan Gupernemen berbeda sekali.
Diposkan oleh tb alam di 18:14 0 komentar Link ke posting ini

Kamis, 08 Oktober 2009

MOTIVASI KOIN EMAS


MOTIVASI KOIN EMAS


      Di zaman dahulu ada seorang Jendral dari negeri Tiongkok kuno yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan melawan musuh yang 
jumlahnya sepuluh kali lipat lebih banyak.  Mendengar kondisi musuh yang tak seimbang, seluruh prajuritnya gentar kalau-kalau akan menderita kekalahan.
     Dalam perjalanan menuju medan perang, Jendral itu berhenti di sebuah altar
vihara. Ia sembahyang dan berdoa meminta petunjuk para dewa. Sedangkan
prajuritnya menanti di luar vihara dengan harap-harap cemas. Tak lama
kemudian, sang Jendral keluar dari vihara.
     Ia berteriak pada seluruh pasukannya, “Kita telah mendapat petunjuk dari
langit.” Lalu ia mengeluarkan koin emas simbol kerajaan dari sakunya. Sambil
mengacungkan koin itu ke udara ia berkata, “Sekarang, kita lihat apa kata
nasib. Mari kita adakan toss. Bila kepala yang muncul, maka kita akan
menang. Tapi bila ekor yang muncul, kita akan kalah. Hidup kita tergantung
pada nasib.”

     Jendral lalu melempar koin emas itu ke udara. Koin emas pun berputar-putar
di udara. Lalu jatuh berguling-guling di tanah. Seluruh pasukan mengamati
apa yang muncul. Setelah agak lama menggelinding ke sana-kemari, koin itu
terhenti. Dan yang muncul adalah KEPALA. Kontan seluruh pasukan berteriak
kesenangan. “Hore..! Kita akan menang. Nasib berpihak pada kita, Ayo serbu
dan hancurkan musuh. Kemenangan telah pasti.”

      Dengan penuh semangat Jendral dan pasukan itu bergerak menuju medan perang. Pertempuran berlangsung dengan sengit. Ternyata dengan keyakinan dan tekad yang membaja akhirnya musuh yang tak terhingga banyaknya dapat dikalahkan. Jendral dan seluruh pasukannya betul-betul senang. 
Seorang prajurit berkata, “Sudah kehendak langit, maka tak ada yang bisa mengubah nasib.”
      Sesampai di ibu kota mereka disambut meriah oleh seluruh penduduk. Raja pun terkagum-kagum mendengar kisah peperangan yang dashyat itu. Beliau bertanya pada sang Jendral bagaimana ia mampu mengobarkan semangat pasukannya hingga begitu gagah berani. Sang Jendral kemudian menyerahkan koin emasnya pada Raja sambil berkata, “Paduka, inilah yang memberikan mereka nasib baik.” Raja menerima dan mengamati koin emas itu yang ternyata kedua sisinya bergambar: KEPALA..!